Archive for the ‘performance evaluation’ Category
Cascading Target: sekali lagi etika dan kedewasaan Leader
“Bila Anda seorang atasan menerima target dari Bos 100 sales unit per month, dan Anda membawahi 10 orang Salesman, berapa target yang Anda bebankan kepada bawahan Anda? Apakah 10, atau angka lainnya yang lebih tinggi?” Cascading target merupakan hal yang biasa, dan hal ini merupakan persoalan etika planning yang bersifat bulanan.
Berapa target yang Anda bebankan sangat tergantung dari kepercayaan Anda terhadap motivasi , kemampuan dan kedewasaan bawahan Anda. Jelasnya ini masalah Anda BUKAN masalah bawahan Anda, bukan seberapa bawahan Anda termotivasi dan mampu tapi apakah Anda telah menjadi pemimpin yang baik dengan memberikan visi, pengaruh, motivasi, pengarahan dan pembelajaran kepada bawahan Anda?
Semakin Anda menilai orang lain cenderung bersikap negatif (apply Theory X to other alias Anda memiliki attitude terhadap orang lain yang negatif), semakin rasional keputusan Anda untuk membebankan target di atas angka 10 dengan pembenaran berbagai keterbatasan bawahan yang sesungguhnya dimotivasi oleh ketakutan Anda sendiri?
Seorang teman menceritakan bagaimana praktek ini berkembang even di sebuah bank swasta nasional nomor satu di Indonesia. Akibatnya penentuan target selalu bersifat politis untuk menyenangkan atasan sekaligus demi kepentingan diri sendiri bukan suatu team/ unit kerja atau bawahan. Akibatnya Leader selalu memiliki kinerja lebih baik dari bawahannya, dan nampak dari top management bahwa memang karyawan di tingkat operative tidak berkinerja dengan baik. So kita melihat self-fulfilling prophecy disini. Jika kita memperlakukan karyawan kita sebagai manusia dewasa, mereka akan bertindak sebagai orang dewasa; namun jelas bila kita memang merekrut orang dewasa.
Karyawan yang dewasa adalah manusia yang tahu apa yang diinginkannya, apa nilai / value yang dipegangnya dan tahu apa yang harus dilakukannya. Masalahnya perusahaan cenderung menyukai karyawan yang secara emosional dan spiritual “anak-anak”. Mereka ini lebih mudah dibentuk, dipengaruhi dan dikendalikan (bahasa halusnya mereka ini fleksibel “sekaleee”) – toh perusahaan adalah mesin uang dimana karyawan adalah mur dan bautnya…. demikian persepsi mereka. Sebaliknya karyawan yang memiliki pendirian, dianggap keras kepala, aneh dan memberontak.
So dengan kualitas bawahan yang memang direkrut masih sebagai “anak-anak” yang memiliki emosi labil dan tanpa pegangan spiritual, praktek manajemen yang serba politis, menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya (silo-ism) memperoleh pembenarannya sendiri.
Hati-hati menilai orang lain, karena ukuran yang sama akan diukurkan kepada kita. Penilaian kita mempengaruhi keputusan dan perilaku kita. Dan untuk berpindah kepada praktek manajemen yang etis, dan leadership yang bertanggungjawab terhadap anak buahnya memang dibutuhkan paradigma baru yang sangat tergantung kedewasaan emotional dan spiritual Leader-nya….
So darimana kita harus mulai? Beranikan diri merombak penyusunan target dan evaluasi karyawan… itulah muara masalahnya sebab disana tercermin accountability, fairness dan commitment yang ujungnya mempengaruhi kepuasan karyawan. Namun sekali lagi bila Anda memandang kepuasan karyawan tidak penting, toh tidak terbukti secara riset bahwa kepuasan karyawan berhubungan kuat dengan kinerja perusahaan dan kepuasan pelanggan…… dan Leader hanya bertanggungjawab terhadap perusahaan dan atasannya, …….. jangan sungkan untuk melupakan tulisan ini…..
Bagaimana bila tidak ada keberanian? Bagaimana bila systemnya memang korup? Jawabannya ubah manusianya. Dalam kasus bank swasta nasional tadi, masalah menjadi buruk sebab tidak ada lagi pemilik perusahaan, yang ada adalah bos-bos yang mengeruk keuntungan untuk diri sendiri dengan rasio gaji lebih dari 5 kali lipat tanpa rikuh (bayangkan rasio gaji yang abnormal ini: 100 juta per bulan VS 1 juta per bulan; mungkin kalau terjadi di Eropa Barat sudah menjadi skandal agency problem ya???).
Komandan yang baik adalah yang merebut kota dengan prajurit terluka minimal, bila ia merebut kota dan seluruh prajuritnya gugur maka rasanya ia tidak lebih daripada seorang penjagal…