Archive for the ‘mestakung’ Category
Adakah yang baru dari Mestakung
Mestakung, penjabaran konsep fisika Critical Phenomenon dari Prof. Yohanes Surya PhD, dewasa ini (Desember 2006) adalah konsep yang mulai banyak dibicarakan orang. Mestakung adalah proses pengaturan dari alam yang bekerja melepaskan sistem dari kondisi kritis. Mestakung selanjutnya dapat dipancing dengan KriLangKun (kritis, langkah dan tekun).
Kritis berarti menempatkan diri dalam kondisi kritis. Kondisi kritis akan menyebabkan semesta bereaksi mengatur diri mewujudkan keinginan kita. Langkah adalah aksi yang dilakukan untuk bergerak menuju sasaran. Tekun berarti melupakan hambatan di belakang dan menetapkan fokus mencapai tujuan.
Konsep ini dalam ilmu social mirip dengan prinsip motivasi conditioning, yaitu menempatkan obyek dalam situasi tertentu sehingga bertindak / mencapai hasil yang dikehendaki. Konsep ini dan juga konsep motivasi dalam ilmu sosial berakar pada asumsi bahwa manusia dan alam memiliki fleksibilitas dan kapasitas tidak terbatas sehingga dapat menyesuaikan diri.
Problemnya asumsi ini kadang “keterusan”, misalkan kita tempatkan seseorang dengan kemampuan biasa-biasa dalam posisi kritis untuk mencapai prestasi extraordinary. Bisa jadi obyek akan meraih prestasi istimewa, namun dengan mengorbankan prinsip etika, menjadi sosok yang over competitive, dan sebagainya. Artinya suatu sistem bias dipacu namun tanpa pemahaman potensi alias kapasitasnya maka Mestakung hanya akan menghasilkan sistem yang tidak menyeluruh/ sempurna (wholeness). Fenomena ini terjadi umum di masyarakat Tionghoa jaman ORBA yang karena berbagai batas pemerintah, dan posisi legal-politikalnya yang kritis mencapai kinerja ekonomi luar biasa namun mengorbankan aspek kemasyarakatan lainnya. Menjadi asosial, kurang pergaulan, terlalu perhitungan, dll.
Jadi ingat semua diciptakan memiliki batasan, (kebalikan asumsi modern motivator-motivator management yang terpengaruh new age), memiliki porsi, memiliki tujuan penciptaannya sendiri…. Di luar itu Mestakung hanyalah seperti rejim tangan besi yang memaksa sistem bekerja menghasilkan output yang sangat baik, namun dengan mengorbankan pelaku-pelakunya yang menderita dalam prosesnya. Oh ya ingat juga Jepang…. sistem memaksa lulusan SMA belajar ekstra keras, sehingga banyak yang bunuh diri….