A Day at Works

Just another WordPress.com weblog

Archive for the ‘frame of reference’ Category

Politik Pemilik dan Manager Perusahaan

without comments

Seperti biasa hari Kamis lalu saya memberikan kuliah Leadership, kali ini topiknya tentang power and influence. By definition power adalah kemampuan memberikan pengaruh untuk berpikir, merasa dan bertindak seperti yang kita inginkan. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan, ada yang mengusik saya dalam perjalan pulang: “Position Power ataukah Personal Power yang terbaik bagi pemilik perusahaan? Bila seorang manager memiliki personal power berlebihan, hal ini tentunya merepotkan pemilik perusahaan daripada bila sang manager hanya bertaut dengan positional power.”

Secara teoritis bagi pelaku politik kantor -gampangnya manager, positional power yang berakar pada managing by fear hanya bermanfaat dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang manusia tidak bisa ditakuti. Karena tekanan, manusia akan menipu dan memberontak. Seperti iklan rokok yang barusan terkenal, patuh karena ada yang jaga alias patuh karena takut…, hal ini sangat tidak efektif, belum lagi bila bawahan main santet… wah….. Namun memang pendekatan ini kadang mutlak diperlukan dalam keadaan krisis dan waktu mepet.

Personal power yang berakar pada managing by love, dengan membuat bawahan respect bukannya takut pada diri kita tentunya lebih efektif dalam jangka panjang. Dalam organisasi kreatif hal ini tidak perlu dipertanyakan, sebab jarang orang yang ketakutan bisa kreatif. Bahkan dalam organisasi yang basically based on power seperti militer, love diperlukan sebab hanya patriotisme alias cinta tanah air yang membuat orang mampu menanggung beban besar sehingga rela mengorbankan keluarga dan diri sendiri sampai sehabis-habisnya.

Meskipun secara praktis tidak ada manager yang 100% mengeksekusi power berdasarkan posisi ataupun karakteristik personal, atau meskipun research membuktikan bahwa banyak pemimpin yang sukses naturenya malah bergantung pada positioal power (Buku Great Intimidator dari Kramer), pertanyaan tadi tetap saja mengusik saya. Bagaimana bila karisma kita kalah dibandingkan manager? Bila owner bergaya sebagai investor tentunya there is no point, tapi bagi owner yang hands-on dan kebetulan kurang popular di mata karyawan hal ini menjadi persoalan tersendiri. Bayangkan Hermawan Kertajaya kalah tenar di mata customer dan anak buah dibandingkan salah satu anak buahnya ……

Pertanyaan ini menggugah saya untuk berbalik mengevaluasi gaya penggunaan kekuasaan berdasarkan frame of reference. Gaya investor tadi, adalah gaya owner yang menganut structural frame of reference. Sejauh manager menghasilkan keuntungan, tidak masalah manager tadi sedemikian berkarismanya, sehingga secara personal dapat mempengaruhi hati bawahan. Yang jadi persoalan adalah bila owner memiliki political frame of reference dimana ia ingin selalu menjadi pusat kekuasaan dan symbolical frame of reference, dimana ia ingin selalu menjadi yang paling benar. Dalam dua kasus ini pepatah Cina, “Dalam satu kolam hanya boleh ada satu Naga” tidak dapat diabaikan.
Lain halnya bila owner memiliki human resource frame of reference, maka manager atau bawahan yang menonjol bahkan seolah melampaui karisma pemilik perusahaan akan mendapatkan tempatnya untuk berkembang. So bila kita bekerja dalam suatu organisasi dengan pemilik aktif dan dalam bidang yang memungkinkan personal branding seperti konsultan maka kadang frame of reference menjadi kata kunci keberlangsungan hidup perusahaan.

Written by stevewibowo

December 10, 2006 at 4:12 pm