Archive for the ‘business growth’ Category
Equality: Masalah Pertumbuhan dan Etika
Baru-baru ini seorang teman menceritakan bagaimana juniornya di perusahaan lama telah mengikuti jejaknya pindah ke perusahaan tempatnya sekarang bekerja. Karena perusahaan sangat membutuhkan karyawan baru, junior teman saya tadi disepakati (melalui negosiasi gaji tentunya) memperoleh gaji yang lebih tinggi dibanding senor teman saya tadi. Lagi-lagi perusahaan demi alasan kebutuhan dan survival menafikan keadilan.
Adil adalah masalah pelik negeri ini, keadilan banyak dipahami sebagai memperoleh sama rata dan sama rasa padahal keadilan adalah 1) internal equality: memperoleh sesuai apa yang dikorbankan, 2) external equality: memperoleh setara dengan orang lain dengan pengorbanan yang sama.
Kasus teman saya tadi jelas adalah kasus external equality. Bagaimana bisa dengan skill dan knowledge yang lebih tinggi, plus pengalaman lebih lama memperoleh gaji yang lebih rendah dari new entrants? Jujur saja kasus ini lazim di Indonesia. Fresh graduate di perusahaan besar Nasional yang direkrut th 2006 memperoleh gaji minimal Rp. 3 juta, sedangkan yang direkrut dengan spec yang sama di th 1996 Rp. 1,5 juta. Jadi secara kasar hanya untuk mempertahankan equality, rekrutan th 1996 harus tumbuh gajinya Rp. 150.000 atau 10% per tahun (3 juta – 1,5 juta dibagi 10 th). Masalahnya kenaikan tahunan belum tentu 10% net.
So bagaimana perusahaan harus bertindak? Jelas perusahaan harus memberikan kenaikan penyesuaian netto yang sesuai, misalnya 10% dalam contoh. Secara fundamental perusahaan harus bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan job market, dan inilah yang susah! Tanpa kesetaraan pertumbuhan ini HR akan kesulitan memperoleh calon karyawan dengan spec yang minimal sama, makin sulit menempatkan karyawan tanpa memperpanjang rata-rata employmet time dalam setiap jabatan, dan makin sulit mempertanggungjawabkan membesarnya staff atau munculnya departemen/seksi/jabatan yang non-fundamental.
Lebih gawat lagi masalah internal equality di negeri ini. Saya ingat tahun 1996 dengan gaji yang menurut saya biasa saja, setiap hari saya bisa sarapan lengkap di Dunkin Donat namun tahun 1999 setelah krisis saya sungguh tidak rela sarapan di sana setiap hari meskipun posisi dan gaji saya sudah naik jauh. Yah… dengan pengorbanan yang sama ternyata gaji kita telah dikoreksi demikian jauh sebab situasi makro ekonomi sungguh buruk. Bagaimana dengan kasus mikro atau sehari-hari? Kita cenderung melihat segala sesuatunya hanya dari hasilnya, sehingga hanya mengagumi yang paling cemerlang tanpa ingat bagaimana pengorbananya. Kita lupa bahwa yang patut dikagumi adalah mahasiswa yang lulus dengan beasiswa dengan GPA 3,0 dibandingkan seorang mahasiswa yang lahir deri keluarga kaya degan GPA 3,5 yang tidak pernah naik bis kota, tidak pernah belajar dibawah lampu bolam 5 watt, dan tidak pernah makan Kentucky Fried Chicken. Karyawan juga demikian. Penilaian karya berdasarkan output semata, tidak membandingkannya dengan potensinya. Meski jelas bagian rekrutmen mengukur potensi setiap karyawan…..
Selain masalah pertumbuhan, fenomena teman saya tadi jelas masalah keberanian dan etika, masalah benar-salah. Manajemen yang pengecut dan lebih suka memberangus hati nurani akan membiarkan ini terjadi tanpa sedikitpun komunikasi. Tindakan yang tepat harus diterapkan, seperti evaluasi gaji, dan penyesuaian.