Posted by: stevewibowo | January 10, 2007

Senang Liat Orang Lain Susah, Susah Liat Orang Lain Senang

Mohamad Sobary dalam tulisannya di Kompas Minggu 7 Januari 2007 dalam kolom Asal Usul berjudul Narsisius menulis bahwa dewasa ini banyak pibadi yang narsis, mencintai diri sendiri dengan membuat orang lain menderita - cocok banget dengan tag line iklan A Mild baru-baru ini : senang liat orang lain susah, susah liat orang lain senang. Orang lupa bahwa benci dan rindu sangat tipis bedanya ketika cinta itu tidak tulus. Ketika cinta kepada orang lain merupakan cinta diri, ketika cinta bukan memberi tapi menerima buat diri sendiri. Contoh yang diberikan Mohamad Sobary sangat lugas dalam hal ini: pengagum AA Gym yang setelah skandal poligaminya berbalik membencinya setengah mati, atau orang tua yang mengklaim cinta kepada anaknya namun sangat menyetir anaknya. Sesungguhnya semuanya bukan cinta, tapi takut kehilangan (anak, guru, dll.).

Dalam research ttg leadership, banyak pemimpin bisnis yang memberikan output besar bagi pemegang saham dalam bentuk revenue dan pasar ternyata adalah mereka yang narsis dan suka ditakuti daripada dicintai anak buahnya. Pemimpin demikian yang berorientasi tugas (Task Oriented), dan memandang perusahaan sebagai mesin ekonomi (Structural frame of Reference) dengan karyawan sebagai komponen yang malas dan harus selalu diawasi (Teori X) terbukti berhasil tidak saja dalam dimensi efisiensi tapi juga inovasi, misalnya Steve Jobs. So apakah style demikian memang yang lebih efektif untuk kepemimpinan masa depan?

Jawabannya terletak dalam hubungan personal trait dan keberhasilan. Research membuktikan bahwa trait tidak selalu berhubungan dengan keberhasilan. Pemimpin yang berhasil belum tentu orang yang menyenangkan, tetapi biasanya mayoritas pemimpin yang berhasil adalah pribadi yang menyenangkan, dan layak ditiru. It is not vice versa… Seorang Bill Clinton yang womanizer terbukti berhasil, sebaliknya Jimmy Carter yang baik dapat dikatakan kurang sukses.

So ini semua tergantung diri kita masing-masing. Pertama-tama ini tergantung pandangan hidup kita apakah kita melihat kehidupan ini dinilai dari apa yang kita peroleh atau dari bagaimana kita memperolehnya. Dunia materialis mendidik kita bahwa definisi keberhasilan adalah berapa banyak mobil yang kita punya, dan setinggi apa jabatan apa yang kita pegang. Dunia timur yang kontemplatif, spiritualis mengajarkan bahwa Surga dan Neraka ada, dan kita ditentukan menjalaninya bukan berdasarkan berapa yang kita miliki dan berapa yang kita berikan tetapi seberapa baik kita menjalaninya. Apakah kita menjalaninya dengan hati bersyukur, kerelaan dan cinta?
Kedua, hal ini ditentukan dari seberapa besar keinginan kita terlepas dari materialisme, dan ingin mencari kemurnian. Ingatan bahwa apa yang kelihatan itu fana dan yang tidak kelihatan itu abadi telah semakin hilang sejak Material Girl mendunia…..

Leave a response

Your response:

Categories